Tarif Batas Bawah Belum Perlu Dinaikan

Tarif Batas Bawah Belum Perlu Dinaikan

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan tengah mengkaji kenaikan tarif batas bawah penerbangan niaga berjadwal dari 30 persen menjadi 40 persen dari tarif batas atas. Tujuannya adalah untuk menjamin keamanan dan kenyamanan. Hal ini didasarkan pada kenaikan harga pokok produksi, dimana sangat berkaitan dengan faktor keselamatan dunia penerbangan.

Namun jika melihat kondisi terkini, pemerintah sebenarnya belum perlu menaikkan tarif batas bawah penerbangan.

Setidaknya ada empat alasan yang menguatkan argumen ini. Pertama, saat ini daya beli masyarakat masih kurang kuat dan belum stabil.

Kedua, tren pertumbuhan ekonomi saat ini yang cenderung stagnan di kisaran 5,1-5,2 persen.

Ketiga, harga avtur yang memiliki kontribusi sekitar 35 persen dari total biaya, cenderung turun dan tidak pernah lebih tinggi dari US$ 55 per barel.

Terakhir biaya perawatan yang memengaruhi faktor keselamatan penerbangan yang saat ini berkisar 15 – 20 persen dari total pengeluaran, mestinya lebih murah karena sekarang fasilitas perawatan sudah tersedia di dalam negeri.

Terjadinya terminasi operasi pada maskapai Kalstar dan meruginya kinerja Garuda Indonesia beberapa waktu lalu, permasalahannya bukan karena harga tiket melainkan pada manajemen perusahaannya.

Namun soal pembatasan taris batas bawah memang diperlukan guna menghindari perang tarif. Contohnya saat bergulirnya arus globalisasi tahun 2000-an dan dimulainya era low cost airline di Indonesia setahun kemudian. Saat itu telah terjadi perubahan yang sangat drastis pada dunia penerbangan Nasional. Banyak muncul pelaku industri penerbangan baru, sehingga mengakibatkan tingkat persaingan menjadi sangat tinggi. Perang tarifpun tak terelakkan, dimana masing masing maskapai berusaha untuk memenangkan pertempuran dengan menawarkan harga yang paling murah untuk mendapatkan penumpang sebanyak-banyaknya. Guna menekan harga serendah-rendahnya, biayapun dipangkas dan pesawat-pesawat yang sudah uzur pun didatangkan demi mendapatkan harga sewa yang murah. Persaingan yang kurang sehat tersebut tidak hanya berdampak buruk bagi maskapai itu sendiri dan moda transportasi lainnya seperti bus dan kereta, tapi berdampak pula pada konsumen, karena konsumen dirugikan akibat menurunnya kualitas pelayanan dan rendahnya jaminan keamanan dan keselamatan penerbangan.

Jadi penentuan tarif batas bawah harus tetap ada, cuma besaran angkanya harus dikaji secara mendalam. Jika tidak ada tarif batas bawah, akan berpotensi terjadi hukum rimba dan perang tarif yang tak terkendali antar maskapai penerbangan. (Arista Atmadjati, SE, MM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *